top of page

ANALISIS  PROGRAM HUMAS BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) GRAND DESIGN ALTERNATIVE DEVELOPMENT  (GDAD)

  • Jan 30, 2018
  • 22 min read

FINAL EXAM

M.C.R. II = Qualitative

Diajukan Oleh :

Nama : Tania Savitri Adzaliyah

NIM : 15110190962

Kelas : PR 19 - 4C

Konsetrasi : Public Relations

[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter"></v:stroke> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"></v:f> <v:f eqn="sum @0 1 0"></v:f> <v:f eqn="sum 0 0 @1"></v:f> <v:f eqn="prod @2 1 2"></v:f> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"></v:f> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"></v:f> <v:f eqn="sum @0 0 1"></v:f> <v:f eqn="prod @6 1 2"></v:f> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"></v:f> <v:f eqn="sum @8 21600 0"></v:f> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"></v:f> <v:f eqn="sum @10 21600 0"></v:f> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect"></v:path> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t"></o:lock> </v:shapetype><v:shape id="image2.png" o:spid="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style='position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:65.25pt; margin-top:35pt;width:316.5pt;height:90pt;z-index:1;visibility:visible; mso-wrap-style:square;mso-wrap-distance-left:9pt;mso-wrap-distance-top:0; mso-wrap-distance-right:9pt;mso-wrap-distance-bottom:0; mso-position-horizontal:absolute;mso-position-horizontal-relative:margin; mso-position-vertical:absolute;mso-position-vertical-relative:text'> <v:imagedata src="file:///C:\Users\User\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.png" o:title="download"></v:imagedata> <w:wrap type="square" anchorx="margin"></w:wrap> </v:shape><![endif][if !vml][endif]Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah M.C.R. II = Qualitative

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya kita selalu diberi kesehatan, kekuatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan mini skripsi ini tepat pada waktunya dengan judul penelitian “Analisis Program Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu menyusun proposal ini. Terutama Ibu Ellys Lestari Pembayun,M.Si selaku dosen dan pembimbing dalam mini skripsi ini.

Terlepas dari semua itu, penulis sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dalam hal struktur kalimat dan tata bahasa. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik dari pembaca sehingga kami dapat memperbaiki makalah. Penulis berharap mini skripsi ini semoga bisa memberi manfaat dan inspirasi bagi semua pembaca. Terima Kasih.

Jakarta, 29 Januari 2018

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

[if !supportLists]

1.1 Latar Belakang

Pada beberapa negara tumbuhan ganja tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia. Di Indonesia sendiri, peredaran ganja masih sangatlah tinggi dan luas. Ganja sendiri kita ketahui adalah tanaman yang memiliki kandungan zat THR (tetrahidriokanabinol) yang membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang berkepanjangan tanpa sebab). Selain memiliki efek ketergantungan yang sangat berbahaya, beberapa penelitian terakhir menemukan adanya peningkatan resiko terjadinya gangguan psikiatri pada pengguna ganja (Ariawan et.al,2014).

Indonesia adalah salah satu negara yang meratifikasi aturan konvensi tunggal narkotik. Banyaknya penyalahgunaan ganja di Indonesia membuat banyaknya generasi muda menjadi korban dan terancam. Salah satu daerah yang memiliki peredaran ganja terbesar ialah Aceh. Ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.

Berdasarkan data dari BNN, setidaknya ada 482.000 hektar tanah yang ditanami ganja. Belum lama ini, BNN mengamankan ganja kering seberat 2,4 ton di provinsi banten dan 1 ton ganja di lampung dan jawa tengah yang merupakan ganja produksi dari Aceh. Provinsi Aceh menjadi salah satu daerah terbesar penghasil tanaman ganja. Pemerintah akan membuat satu perubahan pola bercocok tanam masyarakat aceh agar beralih dari menanam ganja menjadi menanam tanaman yang lebih produktif, yang nilainya secara ekonomi memang menyejahterakan masyarakat Aceh.

Badan Narkotika Nasional meluncurkan suatu program bernama Alih Lahan Narkoba atau Grand Design Alternative Development (GDAD) yang bertujuan untuk mengalihkan ladang ganja yang berada di beberapa daerah di Indonesia menjadi sektor agrowisata dan agrobisnis. Tujuannya untuk menurunkan produksi Ganja dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan dengan pemberdayaan alternatif menuju kawasan bebas Narkotika. Sehingga mantan petani Ganja berubah menjadi petani dengan komoditi unggulan. Serta menjadi wirausaha di bisnis yang legal produktif dan terciptanya kawasan bebas narkoba di pedesaan.

Kepala Bagian Humas BNN Sulistyandri menjelaskan, pihaknya ingin merubah kehidupan petani Aceh supaya sejahtera dan bisa membuat bahan baku dengan cara menanam tanaman yang produktif juga legal. Sebab, banyak petani di desa - desa di Aceh yang menanam Ganja karena kemiskinan dan pengangguran. Program ini sudah dipersiapkan dimulai dari pertengahan Agustus 2017 antara pihak BNN maupun pihak Pemerintahan Provinsi Aceh. Program ini akan difokuskan terlebih dahulu pada wilayah Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh yang memang dikenal memiliki ladang ganja terbesar di Aceh. Selain itu, program ini tidak hanya berfokus pada alih fungsi lahan tanaman saja. Akan tetapi dapat dijadikan sebagai program strategis terhadap pencegahan dan penurunan angka peredaran dan penyalahgunaan narkoba dalam dimensi pembangunan manusia dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kualitas pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Metode Penelitian Studi Kasus Dengan harapan dapat menganalisa program Grand Design Alternative Development (GDAD) oleh BNN serta ikut terlibat langsung dalam program pemerintah baik antara Pemerintah Aceh serta Badan Narkotika Nasional dalam menanggulangi jenis Narkotika yang dimaksud Ganja.




[if !supportLists]1.2 [endif]Rumusan Masalah Penelitian

Mengapa Humas Badan Narkotika Nasional membuat Program

Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh?



[if !supportLists]1.3 [endif]Tujuan Penelitian

[if !supportLists] 1. [endif]Menganalisa Program Humas Badan Narkotika Nasional Grand

Design Alternative Development (GDAD) di Aceh.

[if !supportLists] 2. [endif]Mengeksplorasi Program Humas Badan Narkotika Nasional

Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh.




[if !supportLists]1.4 [endif]Manfaat Penelitian

[if !supportLists]1.4.1 [endif]Manfaat Akademis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian ilmu dan pemahaman yang jelas mengenai Public Relations, khususnya pada program Public Relations Badan Narkotika Nasional dalam Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh. Sehingga akan mempemudah Badan Narkotika Nasional dalam menanggulangi dan memberantas peredaran Narkotika di Indonesia. Serta memperkaya Ilmu pengetahuan dengan menggunakan Pendekatan Studi Kasus.



[if !supportLists]1.4.2 [endif]Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kajian ilmu dan menjadi materi masukan bagi Badan Narkotika Nasional dalam melaksanakan program Alih Lahan Narkotika dengan lingkup Kehumasan. Berupaya menjadi wadah bagi generasi muda untuk dapat berkontribusi dalam masyarakat serta tak lupa mendukung program Humas Badan Narkotika Nasional dalam memberantas Narkotika di Indonesia.


BAB II

KERANGKA TEORETIS

[if !supportLists]1.1 [endif]Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya mengenai peran Humas atau Public Relations yang telah banyak kita temui terutama dalam lingkup organisasi dan perusahan. Diantaranya adalah penelitian yang diajukan oleh Enozva Dwi Razuary yang berjudul Analisis Peran Humas Public Relations Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dalam Program Great Batam. Pada jurnal tersebut, penulis menjelaskan mengenai fungsi Humas atau Public Relations dalam membangun citra dan kepercayaan masyarakat serta peran Humas atau Public Relations dalam suatu organisasi pemerintahan. Public Relations juga mampu menjadi perantara atau menjalin komunikasi dengan masyarakat luar (publik) yang pada akhirnya dapat menentukan sukses atau tidaknya tujuan dan citra yang hendak dicapai oleh perusahan (Kasenda, 2013).

Dalam hal ini Kementrian Pariwisata Republik Indonesia menjadi Instansi Pemerintah yang mempresentasikan dan memperkenalkan sektor pariwisata yang berada di Indonesia. Dengan salah satunya program yang bernama Great Batam. Peran dari Humas sendiri pun memiliki peran penting dalam keberhasilannya program tersebut dengan harapan mencapai target seperti halnya Program Great Bali dan Great Jakarta.

Peneliti menemukan perbedaan yang terdapat dijurnal penelitian sebelumnya dengan penelitian saat ini, diantaranya perbedaan penggunaan teori utama serta teori pendukung. Pada teori sebelumnya teori utama yang digunakan ialah teori Laswell sedangkan pada penelitian ini menggunakan teori Public Relations sebagai teori utama serta teori hubungan komunitas dan kepercayaan sebagai teori pendukung. Selain itu pula, objek penelitian yang diteliti pun berbeda, pada penelitian sebelumnya peneliti meneliti Humas Kementrian Pariwisata Indonesia sedangkan pada penelitian ini memilih Humas atau Public Relations Badan Narkotika Nasional.

Penelitian sebelumnya yang menjadi pembanding kedua untuk peran Humas adalah penelitian yang dilakukan oleh Servince Imelda Nubatonis dengan judul Peran Public Relations Dalam Program LARASITA Badan Pertahanan Kabupaten Timor Tengah Utama di Kelurahan Kepa Tengah. Pada jurnal tersebut penulis menjelaskan mengenai peran dan model perencanaan Public Relations BPN Kabupaten TTU. Berfokus dengan bagaimana peneliti dapat menggungkap dan menjelaskan bagaimana cara untuk melakukan penerapan di BPN Kabupaten TTU.



[if !supportLists]1.1 [endif]Landasan Teori

[if !supportLists]2.2.1 [endif]Hubungan Masyarakat Pemerintah

[if !supportLists]2.2.1.1 [endif]Definisi Hubungan Masyarakat Pemerintah

Menurut Newsom, Turk dan Kruckeberg (2009:p5):

“Job descriptions for PR positions in government vary dramatically. Some people who are called “public information officers’ are really publicists, whereas others with precisely the same title may have all the responsibilites of a corporate vice president for PR.”

Menurut Cutlip, Center dan Broom (2007:465-466):

“Spesialis Public Relations Pemerintah – biasanya disebut pejabat public affairs di AS dan pejabat informasi atau penerangan atau pejabat hubungan masyarakat (humas) di negara lain – adalah penghubung penting antara rakyat dan pemerintah. Diversitas keahlian teknis, tujuan organisasional dan aktivitas publik dari fungsi public affairs pemerintah adalah lebih besar ketimbang praktik Public Relations tradisional dan atau khusus. Puncak perbedaannya adalah pada peran advokasi publik yang dimainkan ini harus menguasai seni dan keahlian berkomunikasi yang baik dan harus memahami secara menyeluruh kultur, kebijakan, praktik, dan konstituen organisasi. Meskipun mungkin hanya disebut “pembuat kata-kata”, praktisi public affairs percaya bahwa tanggung jawab mereka yang luas dan praktik mereka yang berada di bawah ketentuan undang-undang telah membuat mereka berhak menyandang nama jabatan tersendiri. Dalam pengertian yang riil tujuan public affairs itu sendiri sesuai dengan tujuan demokrasi.Informasi yang melimpah dan akurat digunakan oleh pemerintah yang demokratis untuk menjaga hubungan yang responsif dengan konstituen, berdasarkan pada pemahaman bersama dan komunikasi dua arah yang terus-menerus.”

Menurut Ardianto, E. (2011:241): “Pejabat Public Relations adalah seorang profesional atau komunikator profesional, ia diangkat oleh lembaga pemerintah dengan tugas melayani informasi kebijakan publik dan pelayanan.Seorang pejabat Public Relations profesional adalah perantara atau jembatan antara lembaga pemerintahan dan rakyat atau masyarakat, baik ke dalam maupun ke luar Ia harus mampu menjelaskan rencana.” Dari pendapat-pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa humas pemerintah adalah orang yang profesional di bidang menghubungkan negara dan masyarakat, yang diangkat oleh lembaga pemerintah untuk memberikan informasi ke publik.



2.2.1.2 Peran Hubungan Masyarakat Pemerintah

Mengutip definisi humas oleh Joice J Gordon yang diintisarikan dalam buku Effective Public Relations humas seharusnya memiliki fungsi dan peran mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik. Gordon merangkum tugas-tugas seorang humas pemerintah sebagai berikut:

1. Memberi informasi konstituen tentang aktivitas agen pemerintah.

2. Memastikan kerjasama aktif dalam program pemerintah voting, curbside

recycling, dan juga kepatuhan kepada program aturan-kewajiban

menggunakan sabuk pengaman, aturan dilarang merokok.

3. Mendorong warga mendukung kebijakan dan program yang ditetapkan

sensus, program pengawasan keamanan lingkungan, kampanye

penyadaran akan kesehatan personal, bantuan untuk upaya pertolongan

bencana.

4. Melayani sebagai advokat publik administrator pemerintah,

menyampaikan opini publik kepada pembuat keputusan, mengelola isu

publik didalam organisasi serta meningkatkan aksesibilitas publik ke

pejabat administrasi.

5. Mengelola informasi internalmenyiapkan newsletter organisasi,

pengumuman elektronik, dan isi dari dari situs internet organisasi untuk

karyawan.

6. Memfasilitasi hubungan media-menjaga hubungan dengan pers lokal

bertugas sebagai saluran untuk semua pertanyaan media; memberitahu

pers tentang organisasi dan praktiknya serta kebijakannya.

7. Membangun komunitas dan bangsa

8. Menggunakan kampanye kesehatan publik dengan dukungan

pemerintah dan program keamanan publik lainnya serta

mempromosikan berbagai program sosial dan pembangunan.



[if !supportLists]2.2.1.2 [endif]Kegiatan Hubungan Masyarakat Pemerintah

Menurut Ardianto, E. (2011:241):

Public Relations dalam dunia pemerintahan dilakukan, baik ke dalam (publik internal) maupun ke luar (publik eksternal). Kegiatan Public Relations yang bersifat internal, yaitu: (1) mengadakan analisis terhadap kebijakan partai politik yang sudah dan sedang berjalan; (2) mengadakan perbaikan sebagai kelanjutan dari analisis yang dilakukan terhadap kebijakan publik, baik yang sedang berjalan maupun terhadap perencanaan kebijakan publik baru. Kegiatan Public Relations yang bersifat ekternal, yaitu memberikan atau menyebarkan pernyataan-pernyataan secara jujur dan objektif kepada publik, dengan dasar mengutamakan kepentingan publik. Pesan yang disampaikan harus direncanakan secermat mungkin sehingga pada tahap selanjutnya rakyat atau masyarakat akan menaruh simpati dan kepercayaan terhadap pemerintahan.”

Selanjutnya Ardianto menjelaskan bahwa kegiatan Public Relations (humas) di dunia pemerintahan harus benar-benar untuk kepentingan rakyat atau publik sehingga seorang pejabat humas harus mampu menciptakan, membina serta memelihara hubungan ke dalam dan ke luar.Ia harus mampu menjelaskan rencana kebijakan publik dan pelayanan publik, serta ia harus mampu mengetahui keinginan dan kepentingan rakyat atau masyarakat, yang kemudian akan ia sampaikan kepada pimpinan puncak sebagai masukan bagi pembuatan kebijakan publik dan pelayanan publik.


[if !supportLists]2.2.2 [endif]Hubungan Komunitas

[if !supportLists]2.2.2.1 [endif]Definisi Hubungan Komunitas

Menurut Gregory yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam bukunya Community Relations (2004:21), Community Relations atau hubungan komunitas adalah hubungan bisnis yang saling menguntungkan dengan satu atau lebih stakeholders, untuk meningkatkan reputasi perusahaan menjadi sebuah perusahaan yang baik bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaan fungsi humas, komunitas lokal dipandang sebagai suatu kesatuan dengan perusahaan yang memberi manfaat timbal balik. Prinsip kegiatan humas adalah mengharmonisasikan hubungan antara perusahaan beserta manajer dan karyawannya dengan masyarakat di sekitar perusahaan. Hubungan yang harus dibina oleh humas tidak hanya hubungan jangka pendek, tetapi juga hubungan jangka panjang. Hubungan timbal balik dengan rasa memiliki dibutuhkan oleh perusahaan agar perusahaan memperoleh dukungan komunitas.

Community relations pada dasarnya adalah kegiatan public relations. Mengingat community relations berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan sosial yang nyata yang dihadapi komunitas sekitar organisasi. Melalui pendekatan community relations itu, organisasi bersama-sama dengan komunitas sekitarnya berusaha untuk mengidentifikasi, mencari solusi dan melaksanakan rencana tindakan atas permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini, fokusnya adalah permasalahan yang dihadapi komunitas.Bukan permasalahan yang dihadapi organisasi. Namun dampak dari penyelesaian permasalahan yang dihadapi komunitas itu akan dirasakan juga oleh organisasi, mengingat program-program community relations pada dasarnya dikembangkan untuk kesejahteraan bersama organisasi dan komunitas.

Karena kegiatan community relations pada dasarnya adalah kegiatan public relations, maka program dan kegiatan community relations organisasi akan melalui tahap-tahap proses public relations yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam Community Relations (2004:14) sebagai berikut :

[if !supportLists] 1. [endif]Pengumpulan Fakta

2. [endif]Perumusan Masalah

[if !supportLists] 3. [endif]Perencanaan dan Pemrograman

[if !supportLists] 4. [endif] Aksi dan Komunikasi

[if !supportLists] 5. [endif]Evaluasi

Menjaga hubungan dengan komunitas lokal atau community relations adalah juga bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan. Perubahan praktik organisasi dalam menjalankan bisnis dan tekanan sosial pada organiasasi bisnis untuk memainkan peran yang menunjukkan tanggung jawab sosial, sesungguhnnya melahirkan sejumlah manfaat bagi kedua belah pihak. Praktik community relations yang terfokus pada kegiatan filsantropis sebelumnya dipandang hanya memberikan manfaat bagi komunitas saja sedangkan bagi organisasi dipandang sebagai beban biaya. Tidak ada pandangan, pada waktu itu, bahwa membantu komunitas merupakan investasi yang penting bagi organisasi. Karena organisasi bisnis sebagai satu organisme tentu harus berelasi dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut Wilbur J.Peak yang dimuat dalam Lesley’s Public Relations Handbook dan diterjemahkan oleh Onong U.Effendy mendefinisikan hubungan dengan komunitas sebagai berikut :

“Hubungan dengan komunitas sebagai fungsi hubungan masyarakat, merupakan partisipasi suatu lembaga yang berencana, aktif dan berkesinambungan dengan dan di dalam suatu komunitas untuk memelihara dan membina lingkungannya demi keuntungan kedua pihak, lembaga dan komunitas.”

Definisi di atas menerangkan bahwa hubungan dengan komunitas berorientasi kepada kegiatan yakni kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga humas. Dengan ikut berpartisipasi, maka keuntungan bukan hanya pada organisasi saja tetapi juga lingkungan sekitarnya. Menurut Frazier Moore (1988:73) dalam Humas, Prinsip, Kasus dan Masalah bahwa pengertian komunitas adalah :

“Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup di tempat yang sama, berperintahan yang samadan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang umumnya turun temurun.”

Dengan adanya hubungan dengan komunitas, maka humas dalam melakukan kegiatan dan fungsinya dapat diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi, khususnya dalam menjembatani antara kepentingan publik yang menjadi sasarannya yaitu masyarakat sekitar dimana perusahaan atau organisasi berada. Dengan demikian akan menumbuhkan goodwill, good image dan mutual acceptance antar organisasi dan publiknya

Cutlip and Center dalam bukunya Effective Public Relations, mengatakan bahwa penting diketahui apa yang didambakan komunitas bagi kesejahteraan, apa yang diharapkan dari organisasi untuk kesejahteraannya itu dan bagaiman cara menilai kontribusi tersebut.

Masyarakat sekitar atau istilah lainnya community, menurut Kasali (1999:127) dalam bukunya “Management Public Relations” adalah : Yang dimaksud dengan masyarakat setempat atau komunitas lokal adalah masyarakat yang bermukim atau mencari nafkah di sekitar pabrik, kantor, gudang, tempat pelatihan, tempat peristirahatan, atau disekitar aset tetap perusahaan lainnya. Dalam pelaksanaan fungsi Public Relations, komunitas lokal dipandang sebagai suatu kesatuan dengan perusahaan yang memberi manfaat timbal balik .

Sedangkan menurut Grunig dan Hunt dalam bukunya “Managing Public Relations” ada dua macam pengertian komunitas, yaitu :

[if !supportLists] 1. [endif]Sebagai lokalitas yaitu orang-orang yang berkumpul karena lokasi geografis

[if !supportLists] 2. Komunitas tidak hanya berdasarkan lokasi geografis tetapi berdasarkan

interest (perhatian) yaitu orang-orang yang mempunyai minat yang sama

seperti komunitas ilmiah, dan komunitas bisnis.(Moore, 2000:75)



2.2.2.1 Manfaat Hubungan Komunitas

Menurut Rogovsky yang dikutip oleh Yosal Irianta dalam Community Relations (2004 : 69) menyusun sebuah tabel tentang manfaat keterlibatan komunitas organisasi bisnis seperti tampak pada tabel berikut :


Tabel 2

Manfaat Keterlibatan Komunitas Organisasi

​Sumber : Rogovsky (2000:5) yang dikutip Yosal Irianta (2004:70)

[if !supportLists]


[if !supportLists]2.2.2.1 [endif]Unsur Hubungan Komunitas

Menurut Cutlip and Center, kepentingan komunitas itu tercakup 11 unsur, antara lain adalah :

[if !supportLists] 1. Kesejahteraan komersial (commercial prosperity)

[if !supportLists] 2. Dukungan agama (support of religion)

[if !supportLists] 3. Lapangan kerja (work of everyone)

[if !supportLists] 4. Fasilitas pendidikan yang memadai (adequate educational facilities)

[if !supportLists] 5. Hukum, ketertiban, dan keamanan (law, order and safety)

[if !supportLists] 6. Pertumbuhan penduduk (population growth)

[if !supportLists] 7. Perumahan beserta kebutuhannya yang sesuai (proper housing

and utilities)

[if !supportLists] 8. Kesempatan berekreasi dan berkebudayaan yang bervariasi

(varied recreational and cultural pursuits)

[if !supportLists] 9. Perhatian terhadap keselamatan umum (attention to public

welfare)

[if !supportLists] 10. [endif]Penanganan kesehatan yang progresif (progressive

measures for good health)

[if !supportLists] 11. [endif]Pemerintahan ketataprajaan yang cakap (competent

municipal government)

Dalam hal ini, komunitas merupakan salah satu bagian publik eksternal yang memegang peranan penting, karena suatu perusahaan atau organisasi tidak akan berfungsi tanpa adanya dukungan dari komunitas. Hakikat hubungan dengan komunitas adalah titip diri kepada lingkungan, kepada penduduk sekitar agar tidak mengganggu dan bersama-sama menjaga. Untuk itu, sebagai perusahaan yang dekat dengan komunitas seharusnya sama-sama saling menghargai dan memperhatikan kepentingan sekitar.

Kegiatan community relations pun dipandang sebagai bagian dari wujud tanggung jawab sosial organisasi. Sebagai warga negara, organisasi memikul tanggung jawab sosial dalam menjalankan peran turut membantu warga masyarakat untuk mengembangkan dirinya. Karena tanggung jawab sosial itu misalnya, banyak organisasi memberikan bantuan biaya pendidikan dalam bentuk beasiswa atau bantuan dana penelitian bagi warga masyarakat. Ada juga yang mengembangkan tanggungjawab sosialnya dengan membantu usaha kecil dan menengah, atau menyediakan fasilitas perkotaan seperti jembatan penyebrangan dan tempat sampah.

Hubungan antara komunitas dan organisasi lebih tepat dipandang sebagai relasi yang dikembangkan untuk membuka ruang bagi terwujudnya tanggung jawab sosial organisasi.Kembali meminjam ungkapan jefkin tetangga yang baik tentu berperan dalam menunjang keberhasilan. Sehingga komunitas disekitar lokasi operasi organisasi pun demikian pun demikian adanya, akan menunjang keberhasilan satu organisasi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.





2.3 Kerangka Penelitian

Sumber : Data Olahan Peneliti, 2018.

BAB III

METODE PENELITIAN


[if !supportLists]3.1 [endif]Metode Penelitian

Paradigma penelitian ini adalah paradigma kontruktivisme dan menggunakan pendekatan kualitatif desktiptif. Berupaya untuk memahami realitas pengalaman manusia, realitas itu sendiri dibentuk oleh kehidupan (S.p & Budiantara,2014, p. 35). Dimana berfokus pada menganalisa, memaparkan mengenai sebuah alasan, proses dan tujuan secara sistematis yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana hal tersebut dapat memberikan efek yang signifikan terhadap masalah tertentu.

Kualitatif sendiri ialah penelitian yang menggunakan data dari sumber – sumber alternative : client records, published materials, percakapan dengan key member of targeted publics, umpan public dari client, pembicaraan dengan organized group dan focus group. (Daymon & Holloway, 2008,p. X)

Menurut Moleog (2011:6) bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud unutk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain – lain secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata – kata dan bahasa, pada suatu kontes khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Sedangkan menurut Sugiyono (2011:9) ialah metode penelitian kulitatif adalah metode pada filsafat postpositivisme, sedangkan untuk meneliti pada objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik penggumpulan data dilakukan dengan cara triangulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Mengenai pembahasan dan materi yang peneliti teliti, peneliti memilih metode penelitian studi kasus yang secara umum pengertian tersebut mengarah pada penelitian yang memandang sesuatu yang diteliti sebagai studi kasus. Ardianto (2010) mendefinisikan studi kasus sebagai pendekatan dalam penulisan yang menelaah suatu kasus secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif. Definisi tersebut bermakna bahwa peneliti studi kasus merupakan orang yang paham mengenai kasus yang sedang diteliti. Pemahaman mendalam mengenai kasus dapat diperoleh melalui berbagai sumber ; media massa, individu, keluarga, dan perusahaan atau organisasi. Pemahaman mengenai studi kasus juga dapat diperoleh dengan berinteraksi secara intensif dengan orang – orang ang terlibat dalam suatu kasus. (Pembayun,2013 p.247)

Creswell (1998) menjelaskan bahwa suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian studi kasus apabila proses penelitiannya dilakukan secara mendalam dan menyeluruh terhadap kasus yang diteliti, serta mengikuti struktur studi kasus seperti yang dikemukakan oleh Linclon dan Guba (1985), yaitu permasalahan,konteks,isu, dan pelajaran yang dapat diambil. (Pembayun,2013 p.247)

Yin (1984 dan 2003a) yang secara khusus memandang bhwa penelitian studi kasus adalah salah satu metode penelitian yang meneliti fenomena kontemporer dengan menggunakan pendekatan penelitian naturalistik. (Yin, 1984,: 23; Yin,2003a,; 13). Meskipun tampaknya hampir sama dengan kelompok pertama, kelompok ini berangkat dari adanya kebutuhan metode unutk meneliti secara khusus tentang objek atau ‘kasus’ yang menarik perhatian untuk diteliti. (Pembayun,2013 p.247)

Tipe studi kasus yang tepat dengan penelitian ini ialah studi observasi individu atau kelompok yang memaparkan bahwa penekanannya pada penggunaan observasi dalam penelitian unutk menjaring informasi – informasi empiris yang detail dan actual dari unit analisis penelitian, apakah hal tersebut menyangkut kehidupan individu maupun unit – unit sosial tertentu dalam kehidupan masyarakat.


[if !supportLists]3.2 [endif]Tahap Penggumpulan Data

[if !supportLists]3.2.1 [endif]Observasi

Observasi yang dilakukan dalam penelitian ialah dengan cara observasi secara langsung atau lapangan dan mendalam. Maksud dalam kegiatan observasi ini ialah peneliti diharuskan untuk terjun langsung menemui para narasumber dan menganalisa program berdasarkan apa yang dipaparkan oleh narasumber serta melihat secara langsung bagaimana narasumber menyampaikan dan memaparkannya.

Metode observasi merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki” (Supardi, 2006 : 88). Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah.

Pada penelitian ini observasi yang dilakukan ialah observasi partisipasi. Dimana peneliti mengumpulan data berdasarkan sumber yang diteliti dan memiliki pengetahuan yang akurat serta terpercaya berdasarkan pemahaman dan pemaknaan terhadap objek penelitian.

Menurut Moleong (2006: 173) observasi adalah teknik pengumpulan data melalui proses pengamatan secara langsung di lapangan atau di lokasi. Observasi dalam penelitian ini adalah mengamati perkembangan sejauh mana konflik itu terjadi melalui media massa atau media online dengan memperhatikan gejala atau fenomena yang berkaitan dengan pemberhentian Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Abdurachman Sarbini (Mance).

Menurut Marshall dalam Sugiyono (2013: 64) melalui observasi peneliti belajar tentang 48 perilaku dan makna dari perilaku tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi terus terang atau tersamar untuk menghindari suatu data yang dicari merupakan data yang masih rahasia sehingga kemungkinan jika dilakukan terus terang, maka penelitian tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.

Adapun pelaksanaan observasi dalam penelitian ini mengikuti langkah - langkah sebagai berikut:

[if !supportLists] a. [endif]Tahap Persiapan

Peneliti terlebih dahulu menentukan aspek-aspek tingkah laku apa

yang akan diobservasi, kemudian dibuat sebagai acuan untuk penelitian

agar mempermudah saat observasi.

[if !supportLists] b. [endif]Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti mendatangi sumber informan yang terkait

untuk dimintai informasinya yang sesuai dengan topik permasalahan

yang memiliki hubungan terkait yang akan diteliti. Kemudian peneliti

dapat melihat bagaimana fenomena atau kejadian permasalahan yang

akan diteliti tersebut.

[if !supportLists]3.2.2 [endif]Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian (Lerbin,1992 dalam Hadi, 2007). Tanya jawab ‘sepihak’ berarti bahwa pengumpul data yang aktif bertanya, sementara pihak yang ditanya aktif memberikan jawaban atau tanggapan. Dari definisi itu, kita juga dapat mengetahui bahwa tanya jawab dilakukan secara sistematis, telah terencana, dan mengacu pada tujuan penelitian yang dilakukan.

Pada penelitian, wawancara dapat berfungsi sebagai metode primer, pelengkap atau sebagai kriterium (Hadi, 1992). Sebagai metode primer, data yang diperoleh dari wawancara merupakan data yang utama guna menjawab pemasalahan penelitian. Sebagai metode pelengkap, wawancara berfungsi sebagai sebagai pelengkap metode lainnya yang digunakan untuk mengumpulkan data pada suatu penelitian. Sebagai kriterium, wawancara digunakan untuk menguji kebenaran dan kemantapan data yang diperoleh dengan metode lain. Itu dilakukan, misalnya, untuk memeriksa apakah para kolektor data memeang telah memperoleh data dengan angket kepada subjek suatu penelitian, untuk itu dilakukan wawancara dengan sejumlah sample subjek tertentu.

Mengenai latar belakang pengguanaan wawancara sebagai metode pengumpulan data pada suatu penelitian, pendapat Allport ( dalam Hadi, 1992) berikut perlu dipertimbangkan: “If we want to know how people feel, what their experience and what they remember, what their emotions and motives are like, and the reasons for acting as they do – why not ask them?” Dari pendapat itu, kita mengetahui bahwa wawancara dapat atau lebih tepat digunakan untuk memperoleh data mengenai perasaan, pengalaman dan ingatan, emosi, motif, dan sejenisnya secara langsung dari subjeknya.

Charles Stewart dan W. B. Cash mendefinisikannya sebagai “sebuah proses komunikasi berpasangan dengan suatu tujuan yang serius dan telah ditetapkan sebelumnya yang dirancang untuk bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab”

Robert Kahn dan Charles Channel mendefinisikan wawancara sebagai “suatu pola yang dikhususkan dari interaksi verbal – diprakarsai untuk suatu tujuan tertentu, dan difokuskan pada sejumlah bidang kandungan tertentu, dengan proses eliminasi materi yang tak ada kaitannya secara berkelanjutan”.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan wawancara berjenis semi-struktur dimana wawancara tersebut memiliki aturan dan urutan yang spesifik dan tertata secara baik dan benar. Namun tak lupa pula dari respon atau tanggapan yang disampaikan tiap individu dapat selaras dan sejalan dengan dengan yang diharapkan. Panduan wawancara memastikan jika penetili untuk mendapatkan data yang selaras dari setiap narasumber, namun memperbolehkan peneliti untuk mengembangkan pertanyaan yang ingin disampaikan namun tetap pada konteks semestinya.


Pertanyaan I

Mengapa Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) pemerintah memiliki peranan dan tugas untuk merencanakan segala hal terkait dengan informasi ?


Pertanyaan II

Apakah Humas Badan Narkotka Nasional (BNN) berperan sebagai perantara atau jembatan dalam berkomunikasi antara pemerintah dan publik?


Pertanyaan III

Bagaimana cara Humas Badan Narkotka Nasional (BNN) membangun hubungan baik pada publik maupun stakeholder?


Pertanyaan IV

Mengapa Pemerintah menjadi komunikator atau komunikan yang menyampaikan pesan atau informasi kepada publik?


Pertanyaan V

Mengapa masyarakat aceh menjadi unsur terpenting dalam berlangsungnya kegiatan humas atau public relations?


Pertanyaan VI

Apakah hukum mengenai Narkotika sudah memadai?


Pertanyaan VII

Bagaimana aspek masyarakat seperti sosial, budaya, serta ekomoni menjadi penting dalam pemberantasan narkotika?


Pertanyaan VIII

Bagaimana cara untuk masyarakat aceh merasa aman dan tentram dalam segala kondisi yang terjadi?


Pertanyaan IX

Bagaimana kesejahateraan masyarakat aceh memiliki andil besar dalam hubungan komunitas dengan pemerintah?


[if !supportLists]3.2.2.1 [endif]Data Primer

Menurut Umar (2003 : 56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai.

Wawancara akan dilakukan peneliti adalah wawancara dengan pedoman wawancara. Wawancara dengan penggunaan pedoman (interview guide) dimaksudkan untuk wawancara yang lebih mendalam dengan memfokuskan pada persoalan – pesoalan yang akan diteliti. Pedoman wawancara biasanya tak berisi pertanyaan – pertanyaan yang mendetail, tetapi sekedar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari narasumber yang nanti dapat disumbangkan dengan memperhatikan perkembangan konteks dan situasi wawancara.

Data primer yang peneliti gunakan dalam penelitian yang berjudul Analisis Program Humas Badan Narkotika Nasional Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh adalah melalui wawancara.



[if !supportLists]3.2.2.2 [endif]Data Sekunder

Menurut Sugiyono (2005 : 62), data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen. Data ini diperoleh dengan menggunakan studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan – catatan yang berhubungan dengan penelitian, selain itu peneliti mempergunakan data yang diperoleh dari internet.

Lofland dalam Moleong (2006: 157) data sekunder merupakan data yang diperlukan dalam penelitian untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari data primer. Data sekunder dapat berupa studi pustaka yang berasal dari buku - buku, penelitian lapangan, maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian. Berbagai dokumen dihasilkan melalui objek penelitian yang dipergunakan untuk mendukung data primer dan memperkuat data dalam melakukan penelitian.

Dalam pengumpulan data sekunder ini, peneliti akan melakukan studi kepustakaan, data perusahaan serta memanfaatkan internet sebagai pendukung serta pelengkap data yang telah didapatkan melalui data primer.


[if !supportLists] 1. [endif]Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN)

Data yang dimanfaatkan oleh peneliti ialah baik dari Deputi Bidang

Pemberantasan,Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat,

Kepala Bagian Informasi Publik serta Biro Umum.

[if !supportLists] 2. [endif]Studi Kepustakaan

Studi kepustakan merupakan suatu kegiatan pengumpulan data

dan informasi dari berbagai sumber, seperti buku yang memuat

berbagai ragam kajian teori yang sangat dibutuhkan peneliti

majalah, naskah, kisah sejarah, dan dokumen (Maryati dan

Suryawati, 2006,129). Sumber – sumber yang diperoleh

secara cetak maupun dari elektronik ini merupakan informasi yang

relevan dangan topic masalah yang dibutuhkan oleh peneliti.

[if !supportLists] 3. [endif]Internet

Dengan memanfaatkan kecangihan teknologi serta kemudahan

dalam mendapatkan berbagai informasi, peneliti tentunya memanfaatkan segala hal yang berkaitan dengan penelitian

ini. Dalam hal ini peneliti memanfaatkan berbagai pemberitaan dan

publikasi dari berbagai media online yang memberitakan

dan menyebarkan informasi baik dari Badan Narkotika Nasional

(BNN) maupun pemerintah terkait dengan program Grand Design

Alternative Development (GDAD).



[if !supportLists]3.2.3 [endif]Narasumber

Dalam penelitian ini, peneliti memiliki klasifikasi – klasifikansi narasumber yang dianggap sebagai sumber jawaban dan data dari masalah yang diteliti, memiliki kemampuan untuk memberikan informasi, menjelaskan serta memberikan pengalaman mengenai objek penelitian yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan dengan semestinya


[if !supportLists]1. [endif]Narasumber Internal

Penelitian ini menggunakan narasumber internal untuk mendapatkan informasi dan data – data yang dibutuhkan untuk mendukung data dan keabsahan dari informai yang telah didapatkan, diantaranya adalah pihak Badan Narkotika Nasional (BNN).

[if !supportLists] a. [endif]Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN)

Hubungan Masyarakat atau yang kita kenal sebagi humas atau public relations memiliki peranan pentin dalam menjembatani dan memberikan akses yang penting bagi suatu instansi atau organisasi dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada public. Hal ini dapat membantu peneliti dalam mengetahui apa saja program atau kegiatan yang berlangsung dan bagaimana proses dalam menjalankannya.

[if !supportLists] b. [endif]Kepala bagian Informasi Publik

Peneliti memiih Kepala Bagian Informasi Publik sebagai narasumber internal karena memiliki peran yang penting dalam melaksanakan koordinasi anatar penggelolaan informasi dan dokumentasi baik yang akan disampaikan maupun yang dikelola secara khusus.

[if !supportLists] c. [endif]Subbagian Penyajian dan Pelayanan Informasi

Subbagian penyajian dan pelayanan informasi memiliki tugas

melaksakan perencanaan, pembangunan dan pengembangan aplikasi layanan informasi publik dalam program Grand Design Alternative Development (GDAD).


[if !supportLists]3.2.2 [endif]Unit Analisis

Menurut Hamidi (2005: 75-76) menyatakan bahwa unit analisis adalah satuan yang diteliti yang bisa berupa individu, kelompok, benda atau suatu latar peristiwa sosial seperti misalnya aktivitas individu atau kelompok sebagai subjek penelitian.

Dengan judul penelitian Analisis Program Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Grand Design Alternative Development (GDAD) di Aceh , maka peneliti memfokuskan pada Humas atau Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menjalankan dan melakukan program tersebut sebagai subjek penelitian. Dengan adanya aktifitas dan peredaran narkotika di Indonesia Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan hal tersebut membuat program unutk menggubah perkebunan ganja menjadi sektor yang memiliki nilai produktifitas tinggi untuk masyarakat.

Dari cara mengungkap unit analisis data dengan menetapkan kriteria responden tersebut, peneliti dengan sendirinya akan memperoleh siapa dan apa yang menjadi subjek penelitiannya. Dalam hal ini peneliti akan mencoba menemukan informan awal yakni orang yang pertama memberi informasi yang memadai ketika peneliti mengawali aktivitas pengumpulan data.

Adapun yang menjadi informan kunci ialah Ibu Hambali selaku Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Bapak Achmad Sudartyo, SE selaku Kepala Bagian Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN).

Unit (satuan) analisis data penelitian ini adalah individu sebagai Humas, sub bagian Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Kepala Bagian Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN).


[if !supportLists]3.3 [endif]Tahap Analisis Data

Miles dan Huberman (1984) menyebutkan bahwa analisis data selama pengumpulan data membawa peneliti mondar-mandir antara berpikir tentang data yang ada dan mengembangkan strategi untuk mengumpulkan data baru. Melakukan koreksi terhadap informasi yang kurang jelas dan mengarahkan analisis yang sedang berjalan berkaitan dengan dampak pembangkitan kerja lapangan. Langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data yaitu penyusunan lembar rangkuman kontak (contact summary sheet), pembuatan kode-kode, pengkodean pola (pattern codding) dan pemberian memo.

Menurut Lexy J. Moleong, dalam penelitian kualitatif ada tiga model analisis data, yakni (1) metode perbandingan tetap (constant comparative method) seperti yang dikemukakan oleh Glaser & Strauss dalam buku mereka the Discovery of Grounded Research. (2) Metode analisis data menurut Miles & Huberman seperti yang mereka kemukakan dalam buku Qualitative Data Analysist. (3) metode analisis data menurut Spradley sebagai yang ditemukan dalam bukunya Participant Observation.

Dari pengalaman melakukan penelitian kualitatif beberapa kali, model analisis data yang dikenalkan oleh Spradley (1980), dan Glaser dan Strauss (1967) bisa dipakai sebagai pedoman. Kendati tidak baku, artinya setiap peneliti kualitatif bisa mengembangkannya sendiri, secara garis besar model analisis itu diuraikan.

Miles & Huberman (1984) dalam Denzin & Lincoln (Lincoln & Dezin,2009, p. 592) menyatakan bahwa analisis data terdiri dari tiga proses yang saling terkait, yaitu :


Pada penelitian ini peneliti dapat dikatakan menguraikan penelitian dengan Analisis Dominan. Analisis domain pada hakikatnya adalah upaya peneliti untuk memperoleh gambaran umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya ialah dengan membaca naskah data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh domain atau ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti belum perlu membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya hanya untuk memperoleh domain atau ranah. Hasil analisis ini masih berupa pengetahuan tingkat permukaan tentang berbagai ranah konseptual.



[if !supportLists]3.4 [endif]Fokus Penelitian

[if !supportLists]3.2 [endif]Tahap Keabsahan Data

Banyak Hasil Penelitian kualitatif yang diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.

Selama pelaksanaan penelitian, suatu kesalahan dimungkinkan dapat timbul. Entah itu berasal dari diri peneliti atau dari pihak informan. Untuk mengurangi dan meniadakan kesalahan data tersebut, peneliti perlu mengadakan pengecekan kembali data tersebut sebelum diproses dalam bentuk laporan dengan harapan laporan yang disajikan nanti tidak mengalami kesalahan.

Selain menggunakan reduksi data peneliti juga menggunakan teknik Triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330) Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.Pada penelitian ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331).

Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :

[if !supportLists] a. [endif]Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

[if !supportLists] b. [endif]Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

yang dikatakan secara pribadi.

[if !supportLists] c. [endif]Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi

penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

[if !supportLists] d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.

[if !supportLists] e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

Sementara itu, dalam catatan Tedi Cahyono dilengkapi bahwa dalam riset kualitatif triangulasi merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang peneliti disamping proses lainnya, dimana proses ini menentukan aspek validitas informasi yang diperoleh untuk kemudian disusun dalam suatu penelitian. teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat.

Murti B., 2006 menyatakan bahwa tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003 menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi. Selain menggunakan reduksi data peneliti juga menggunakan teknik Triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330).

Berdasarkan pengertian tersebut , teknik triagulasi dengan sumber data merupakan teknik yang paling tepat dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Melihat dan menelaah bahwa narasumber merupakan sumber data yang memberikan penjelasan, pengertian serta pemaknaan dari topik yang diteliti sehingga dapat membuat peneliti mudah untuk menganalisa program humas yang dijalankan Badan Narkotika Nasional (BNN) yaitu Grand Design Alternative Development (GDAD).




[if !supportLists]3.3 [endif]Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan selama kurun waktu 3 bulan dimulai dari bulan November 2017 hingga Januari 2018 di Kantor Pusat Badan Narkotika Nasional (BNN) – Jakarta. Berikut adalah jadwal penelitian serta kegiatan yang akan dilaksanakan :




Daftar Pustaka

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Irianta, Yosal. 2004. Community Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jefkin, Franks. 1992. Public Relations edisi keempat, Alih Bahasa: Haris Munandar, Jakarta: Erlangga.

Kriyantono, Rachmat. 2008. Public Relations Writing. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianti. 2003. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing.

Pembayun, Ellys Lestari. 2013. One Stop Qualitative Research Methodology In Communication. Jakarta : Lentera Ilmu Cendikia.

https://sriwijayanti.wordpress.com/kepercayaan-trust/

http://endangfloriyanti.blogspot.co.id/2016/02/konsep-kepercayaan-trust.html

http://etalasepustaka.blogspot.co.id/2016/05/pengertian-kepercayaan-menurut-para-ahli.html

http://bnn.go.id/read/berita/17903/humas-bnn-dan-media-massa-samakan-persepsi-dorong-masyarakat-agar-mau-mengedukasi-diri-sendiri-untuk-pahami-bahaya-penyalahgunaan-narkoba

http://bnn.go.id/read/artikel/17778/menguasai-indonesia-melalui-narkoba

http://www.beritasatu.com/hukum/461239-bnn-usulkan-program-alih-fungsi-lahan-ganja.html

https://www.merdeka.com/peristiwa/bnn-luncurkan-program-alih-fungsi-lahan-bekas-ganja.html

https://www.scribd.com/doc/95650961/Peran-Dan-Fungsi-Public-Relations-Dalam-Organisasi

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31537/?sequence=4

http://pengertianmenurutahli.blogspot.co.id/2013/06/hubungan-masyarakat-public-relations.html

http://digilib.unila.ac.id/6253/17/BAB%20III.pdf

https://www.merdeka.com/peristiwa/bnn-luncurkan-program-alih-fungsi-lahan-bekas-ganja.html#ampshare=https://m.merdeka.com/peristiwa/bnn-luncurkan-program-alih-fungsi-lahan-bekas-ganja.html

https://mugiwararmas.wordpress.com/2011/05/31/humas-pemerintahan-or-government-public-relations/

http://merlitafutriana0.blogspot.co.id/p/wawancara.html

file:///C:/Users/LENOVO/Documents/Tania/online%20pr%20-spekup/S_PKN_0907327_CHAPTER3.pdf

http://zorayapelu.blogspot.co.id/2009/04/method-of-qualitative.html

http://unsanilutfiana.blogspot.co.id/2013/06/tahapan-menganalisis-data.html

http://www.ilmusaudara.com/2016/06/analisis-data-adalah-sebuah-kegiatan.html

https://yanti164.wordpress.com/2013/11/17/teknik-pemeriksaan-keabsahan-data/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/25944/Chapter%20II.pdf;jsessionid=3D4771443D6BD53428496CA92E67F401?sequence=4

https://bersukacitalah.wordpress.com/tag/tahap-tahap-analisis-kualitatif/


![endif]--


 
 
 

Comments


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

© 2023 by Name of Site. Proudly created with Wix.com

bottom of page